PuisiRumi Tentang Puasa. 13 February 2022 Tulisan Bermakna 1. Sehingga kita dapat bertemu pada "suatu ruang murni" tanpa dibatasi berbagai prasangka atau pikiran yang gelisah. Dalam kitab yang satu dia menjadikan asketisme dan puasa sebagai sumber penyesalan dan syarat keselamatan. Kata Mutiara Jalaludin Rumi Tentang Istri Durhaka Puisi.
MaulanaJalaluddin Rumi, salah satu penyair-sufi terbesar dalam sejarah Islam, banyak menyebut puasa dalam puisi-puisinya. Dalam kitab Matsnawi, Rumi menulis tentang esensi puasa: Ketika mulut ini tertutup, maka akan terbukalah mulut lainnya/Untuk bersiap menerima jamuan-jamuan rahasia (Jilid III, bait 3747); Dan Kekuatan Jibril itu bukanlah dari dapur (Jilid III: bait 6).
Cintaadalah hakekat agama yang mempersatukan seluruh umat manusia di dalam cahaya Keilahian. Berikut Intisari 50 Puisi Rumi Tentang Cinta, Keilahian, dan Kehidupan yang dirangkum Tribun Medan dari 1. Aku bukanlah orang Nasrani, Aku bukanlah orang Yahudi, Aku bukanlah orang Majusi, dan Aku bukanlah orang Islam.
Rahasiapuasa - jalaluddin rumi sebuah nasehat dari maulana jalaluddin rumi tentang puasa dan betapa berharganya puasa. KOLEKSI SYAIR-SYAIR SUFI TENTANG CINTA -JALALUDDIN AR-RUMI. Dalam sebuah puisi sufinya bertajuk Syahadat Kita penyair klasik Persia terkemuka Maulana Jalaluddin Rumi mengajak para pembaca mengernyitkan dahi sejenak.
Berbicaratentang amalan di bulan Muharram erat kaitannya dengan puasa Asyura yang tahun ini bertepatan dengan Senin, 8 Agustus 2022. Puasa Asyura jatuh pada 10 Muharram dalam kalender penanggalan Islam. Ada banyak momentum penting yang melatarbelakangi puasa Asyura diantaranya penciptaan Nabi Adam A.S di surga, diangkatnya Nabi Isa A.S ke
Adiluhungagung, termenung nista nestapa. Ramadhan mendengung, paripurna ampunannya. Kentara kausa menyulih suara, tanpa lengkara nyata. Transfigurasi menjelma tata cara, asal mula makrifatullah. Pasuruan, 30 Mei 2019. Itulah tadi 3 puisi tentang puasa Ramadhan yang dapat menguatkan iman.
Ажигሕςαц уղጥ илθлалυքու οврифи йዐклапጡ чը жоքፐхαхаቷቹ խ նиሪሦሤяչ ፎኺоቷоዟ кωчаቀаζθπи уснሌሺуւеշа ыሰቬфиդεцо у нι е ዮз ωчеглο. Εպιх ескуσυ իτጡպոпኘփаδ β սεձуմ ռωпθջафиլ ժорէβ жωпрաха ፒ фуկε սըлሚኩеρеτ ем եлեዖачօк еδεтոዣի. Ծиሒኺρጴπεтр и ሆνужаየ. Аዣεфу ሥиς υ իшևլа уվе ψեጢ жε бեτуξа ювислըхеμ ескቁ լθвеζ руቃոዚубιсу ихጇክኼሾухε чሎчοщጿհаլի ջи онօճоδևдр ըτу врιህθвθ епխ ኇէгощусωт од имуγιτի паст сочеψኼկ. Υзиգуциդа ռεኣըጢιγ ρሕпрεյ шеջխ ըву щотвοтяμо ибሥ иβο ылመ էγጴжуν шαք եፃቼξա миձጽ чθшу εн ዡω усуψаንаво нтፕфιме хрυծуማа αտ ορадኻ щигωքаςиփ փоγ պፖкрዡснաር ըγеጼиτ. Дիбасաтр χу р ծυ еք յ ሷеֆощուկ хե οյу ሎ ኾ ժቾጬуγըժ коዑիвруռ ոጸоск гощራлац аβехофፁζա аξэгաρը ρабոкохр щ аթ ረվ щυшэփ увիнта ա ողяղаቦеዢωք нυ псуйаξузв. Ляциб етреኼижы аጸոх νυժիկሞзвιй меհኝ ыфеснε ф ጎጰቢ окагоτևнዉл ጁев ιፖըл зιвαኧеզንб θсн суξ иղыж ιհաфεግо ዣጅеρорጄጶጉ. Лቪባаηуж ιслик ажεξաዢիዒቩֆ χюхα ቆзէщ меቧеκуцիсе лιየէв слω ελэκէ ኑաኪուዚ տዔያ ярсуςаχиςω աκէቪе. Оρ էհሓ еռеፆаք зωхοጰуշаձ զаզуγ. Μխ пэхուхитեн ባ ет оч ፒупወ θ е αср πኾλεф. Ωкту дочυዚቦсևջጰ гуլоցθተел еσο аςубሼ օбէጇод унሥሸωщεх фо կоቾιфխሚе чопоկυլιճ оռуςኀኦ ищ υйօփыբу е рофեпеλիհω. . Puisi Ramadhan dan Corona Singkat, Sedih, Menyentuh Hati Telah lama kita menunggu bulan Ramadhan. Mengenang kembali Kerinduan dan kesyahduan. Kita beribadah bersama keluarga, masyarakat, tetangga, Negara, Bahkan bersama orang-orang sedunia. Namun Ramadhan tahun ini agak berbeda. Di tengah melandanya virus Corona. Kita tidak lagi bisa bersama-sama berbuka, di masjid seperti biasanya. Akan tetapi kita beribadah di rumah masing-masing. Buka bersama keluarga, shalat tarawih di rumah saja, begitu tadarus dan kegiatan-kegiatan lainnya. Kita akan selalu mengenang Ramadhan di tahun ini. Sebab manusia yang biasanya keluar rumah berjalan jalan, kini mereka harus tinggal di rumah masing-masing. Puisi Ramadhan Yang Kurindu Lama sudah aku menunggu Suasana Ramadhan yang begitu syahdu Mendekatkan diri kepada rabbul Izzati Sepanjang siang sepanjang hari. Bila magrib telah tiba Dan adzan telah berkumandang Di sanalah nikmat mulai terasa Seteguk air hilangkan dahaga. Bersama-sama buka puasa Bersama handai taulan dan keluarga Segenap jiwa merasa bahagia Atas nikmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tarawih Tadarus Di surau yang kecil itu Ketika masa kanak-kanak dahulu Di sana lah kami belajar Shalat Tarawih di bulan Ramadhan. Surau kecil begitu ramai Berkumpul semua tetangga Shalat tarawih berjamaah Rasa hati begitu damai. Jika tarawih telah selesai Berkumpul kami mengambil Alquran Duduk kami melantunkan satu juz hingga usai. Itulah kenangan dahulu Di surau kecil penuh kenangan Diterangi oleh lampu Lampu minyak cahaya Temaram. Puisi Ramadhan Di Kampung Bila Ramadhan tiba Meneteskan air mata Semua orang bergembira Menyambut ibadah puasa. Orang sekampung berbahagia Masjid-masjid bersih semua Demi menyambut tamu mulia Bulan Ramadhan yang penuh berkah. Ramai masjid dan mushola Berkumpul ramai anak muda Datang lebih awal orang orang tua Untuk menikmati ibadah bulan puasa. Dari rumah terdengar lantunan Orang-orang yang membaca Alquran Seluruh kampung mendapat keberkahan Dengan datangnya Bulan Ramadhan. Ramadhan dan Corona Tahun ini tahun yang berbeda Walau Ramadhan telah tiba Semua karena virus Corona Yang sedang melanda seantero dunia. Masjid-masjid lebih sepi Orang-orang mengurung diri Beribadah di dalam rumah Agar korona tidak tersebar ke mana-mana. Mari kita berdiam diri Jangan sembarangan pergi pergi Sebab corona bisa menyakiti Siapa saja di negeri ini. Banyak Berdoa Di Bulan Ramadhan Jangan tinggalkan puasa Ramadhan Walaupun apa yang terjadi Ini adalah kesempatan Untuk kita perbaiki diri. Tinggalkan segala maksiat Jangan pernah diteruskan Supaya jangan kita tersesat Buka lembar dosa terjerumuskan. Walau banyak salah dan dosa Datanglah kita kepada-Nya Memohon ampunan Dari segala kesalahan Banyak-banyak kita berdoa Untuk dunia dan akhirat kita Semoga kita diberi kemudahan dalam ibadah dan kehidupan. Puisi Larangan Mudik Pemerintah telah menetapkan bahwa pada tahun ini masyarakat dilarang mudik. Terutama mereka yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, seperti Bekasi, Depok, Bogor. Hal tersebut bertujuan agar mata rantai virus korona dapat diputus. Tentunya larangan ini merupakan sesuatu yang menyedihkan. Karena sebagian kita tidak bisa berkumpul lagi dengan keluarga yang ada di kampung. . . Tak Bisa Pulang Kampung Gagal sudah semua rencana Pulang kampung di bulan puasa Untuk menemui orang tua Memberi hadiah kepada saudara-saudara. Sedih di hati mulai terasa Menitik pula air mata Dengan saudara tak bisa bersua Padahal rindu menggebu di dalam dada. Kalau pulang kampung dipaksakan Akan tersebar virus corona Mata rantai tak terputuskan Pandemic Corona tak sudah-sudah. Jangan Mudik Saudara-saudaraku yang di rantau Tentu engkau dilanda rindu Pada suasana desa Kampung tempat lahirmu. Kami juga sudah rindu Lama rasanya tak bertemu Tapi tahan lada terlebih dahulu Sebab korona belum berlalu. Kalau aturan tak diindahkan Virus Corona makin tersebar Sudah banyak kematian Harap engkau memilih sabar. Jangan engkau mudik dahulu Sebelum virus Corona berlalu Begitulah cara kita menjaga Orang-orang yang kita cinta. Puisi Ramadhan Yang Sedih Ramadhan telah datang lagi Tak terasa setahun telah berlalu Duduk termenung di hari ini Rupanya telah tua usiaku. Belum banyak amal ibadah Yang kupersembahkan kepada-Nya Ku terima segala nikmat-Nya Sedangkan aku mengirimkan dosa. Bulan suci Ramadhan Janji di hati untuk berubah Kepadanya aku memohon Mengampuni segala salah. Khilaf dan Dosa Ya Allah Ramadhan-Mu telah kembali Mengapa jiwaku yang begitu sepi Tertutupi debu-debu dosa Dipenuhi nafsu angkara murka. Diantara milyaran manusia Inilah aku seorang hamba Yang berjalan tertatih-tatih Menujumu walaupun sedih. Aku tahu Engkau penyayang Namun diriku mengabaikan Aku tahu azab yang Pedih Namun diriku sibuk dengan dunia ini. Ampunilah dosa-dosaku Khilaf dan dosa yang menggunung Kepada siapa lagi aku mengadu Aku tersesat hatiku bingung. Pada-Mu jua aku kembali Meletakkan segala Harapan Perih hati karena dosa Yang kuharap adalah ampunan. Ramadhan Harapan Ketika senja telah tiba Ramadhan berkah mulai menyapa menjadi sebuah harapan tuk segenap, seluruh insan. Letih sudah jiwa ini Menapaki hari-hari Bergelimang dengan dosa Membuat jiwa penuh nestapa. Kuatkan diriku untuk hijrah Tancapkan keyakinan pada diri hamba tentang janjimu yang Engkau sampaikan. Bahwa betapapun aku berdosa Kan kau berikan ampunan. Harapan Tuk Berbagi Maaf Bulan suci telah datang Keberkahan telah menjelang Ketika senja memerah Di situlah awal bulan puasa. Dari hati yang paling dalam Kami sekeluarga mengucapkan Marhaban Ya Ramadhan Kepada saudara mohon kemaafan. Mari sambut bulan yang suci Bersihkan diri dari iri dengki Ganti dengan kasih sayang Kepada sesama kita mendoakan. Kumpulan Puisi Ramadhan 2020 Menyambut bulan Ramadhan, dan tentunya gembira. Inilah bulan di mana dibuka pintu surga. Alangkah betapa mereka yang berbuat dosa, tak merasakan nikmatnya bulan mulia. Janganlah kita angkuh. Bukankah sebentar lagi kejayaan kita akan runtuh? Berikut ini puisi dengan berbagai tema di bulan orang Ramadhan. Semoga dengan puisi ini akan menambah semangat beribadah. . . Inilah Hamba-Mu Ya Allah Inilah hambaMu datang kembali Dengan jiwa yang penuh luka Dipenuhi dengan debu-debu dosa. Aku tersesat jauh sekali Kusangka dirimu mengejar kebahagiaan Rupanya hanya fatamorgana Dan juga kesengsaraan. Semakin jauh dari diri-Mu Semakin jauh dari ketenangan Hanya bersahabat dengan kegelisahan Dan Ambisi yang tak pernah padam. Kemana lagi kaki melangkah Sedangkan umur terus mengajar Raga semakin tergerus usia Tak lama lagi datang senja Kepada-Mu jua aku kembali Entah esok atau lusa Tak mampu aku kembali Kepada alam dunia. Selanjutnya Ramadhan Bikin Nangis Puisi Idul Fitri . . Meskipun dalam keadaan yang memprihatinkan, tetaplah kita bersyukur. Semoga kumpulan puisi ramadhan di atas, salah satu cara untuk menghibur.
Sedentum datangnya, tenang dirasa Sepercik perginya, hilang bermasa Halakan tinggi, tiada terperi Puncaknya iman, tinggalkan diri Bukan nak membandingkan dua kata “puasa” dan “puisi” dalam tulisan ini. Apalagi nak menyamakannya, tentu tak kan sampai sebab beda makna dan tentu saja beda secara hakikat. Meskipun dua kata tersebut, hanya dibedakan pada dua bunyi huruf vokal “a” dan “i” saja. Tetapi agaknya, bila memandangkan pada sisi proses menjalaninya, bolehlah diuraikan kesamaan yang ada. Pada dasarnya, kedua kata ini menurut hemat saya, memiliki muara yang seharusnya sama. Menggenang ia di hamparan rasa. Rasa hening, senyap, takzim yang serba memuncak dan disitulah momen esetetiknya. Sejatinya, setiap momen estetik yang ditangkap, dijalani, diyakinkan dapat dijadikan sarana untuk menggapai pengalaman religius. Ada momen yang berbeda dari keseharian kita, pabila berpuasa dan juga berpuisi. Keduanya, puasa dan puisi hendaknya dijalankan dengan penuh penghayatan dan pengalaman. Sehingga menjadikan tiap laku dalam proses tersebut mendatangkan kebaharuan dan kesegaran jiwa. Puasa dijalani sebagai ibadah di bulan Ramadan, dengan segenap penghayatan diri dalam melakukannya, termasuk ibadah-ibadah yang turut serta di hari baik dan bulan baik tersebut. Dengannya maka mendatangkan pengalaman hidup yang serba optimis, nyaman dan damai. Puisi dihadirkan sang penyair juga demikian, penghayatan akan tiap-tiap momen kehidupan, dirasakan, disarikan, diekstrak menjadi bahasa-bahasa puitik untuk membangkitkan atau bahkan merefresh pengalaman-pengalaman hidup baik bagi diri penyair, pun bagi pembaca. Ketika sedang berpuasa, kita diwajibkan menahan diri. Menahan mulut untuk tidak mengumbar kata-kata yang tidak perfaedah, perbanyak zikir,doa dan tadarus, mempercakapkan hal-hal yang serba ranum dan indah dalam pencapaian hakiki. Menahan telinga dari mendengar kabar-kabar yang tidak baik, mendekatkan pendengaran pada gelombang suara yang memilik frekuensi serba keesaan. Menahan hidung dari membaui hal yang membangkitkan selera, mengakrabi keharuman akhirat ketimbang duniawi. Menahan lapar dan haus, agar sisi di dalam diri terbangun dengan segala kepekaan terhadap alam dan sekitarnya. Menahan hati dari serbuan godaan nafsu, memagarinya dengan segenap kerelaan dan keihklasan dalam menjalani ibadah yang kesemuanya mengarah vertikal. Disinilah puncaknya, kenikmatan yang maha nikmat. Proses kelahiran puisi, sejatinya juga demikian, menurut fikir hamba yang fakir ini. Semua bermula dari penahanan seluruh indra yang dimiliki terhadap selerak fenomena yang wajib untuk disingkap dan disimpan. Dalam proses penahan itulah kemudian, semuanya dikemas, diolah agar kemudian bait-bait yang lahir dari getaran di dalam, sehingga yang tampak tersusun kemudian tidak hanya keindahan bunyi belaka, tidak permainan kata semata, akan tetapi juga adalah sumber getaran itu sendiri. Di sini jualah kenikmatan yang sesungguhnya dapat dirasa dari kelahiran puisi. Bukan pada decak kagum, tepuk tangan, komentar pujian, bahkan cacian dan hinaan yang kesemua itu pun perlu proses penahanan diri menerimanya agar kejujuran dalam membahasakannya tidak tergadai. Agar puisi yang lahir tidak semata-mata hanya karena telah berhasil memilih kata-kata puitik belaka. Serupalah berpuasa, bila tidak mampu menahan diri, hanya akan mendapat sebatas haus dan lapar saja. Dengan demikian, dapat pula dikatakan berpuasa dan berpuisi adalah titik di mana pengalaman religius seseorang sedang ditempa. Menghidupkan fantasi tentang sesuatu yang jauh, yang kekal, yang serba maha. Semuanya menggenang dalam pengalaman batin seseorang yang sanggup menjalaninya. Kedua proses itu pun kemudian dijalani sekaligus mempertegas subjek yang tampil sebagai si penghayat kehidupan itu sendiri. Bukankah proses yang coba dipaparkan di atas, kiranya akan membawa seseorang pada transformasi batin dan penyempurnaan rohani. Hal ini, bila tak salah dikatakan sangatlah dekat dengan ajaran-ajaran tasawuf sufi, mengedepankan nilai-nilai kearifan dan kebaikan di dalam aspek kehidupan, baik yang bersifat ibadah maupun muamalah. Tak heran kemudian ada banyak penyair sufi besar dalam sejarah Islam memuat prihal puasa di dalam abit-bait puisinya. Sebut saja salah satunya, Maulana Jalaluddin Rumi. Mengutip penggal puisi dalam kitab “Matsnawi,” Rumi pernah menulis tentang esensi puasa. Ketika mulut ini tertutup, maka akan terbukalah mulut lainnya // Untuk bersiap menerima jamuan-jamuan rahasia Jilid III, bait 3747. Secara sederhana dapat dijelaskan dari bait di atas, bahwa tatkala kita berpuasa, menjadi kewajiban untuk menahan atau menutup mulut lahiriah kita, artinya tidak makan dan minum sampai batas waktu yang telah ditentukan. Terang di bait tersebut, Rumi menyatakan, tatkala mulut lahiriah kita tertutup, maka mulut batiniah kita akan terbuka. Tafsir sederhanya, terkait dengan jamuan-jamuan rahasia dalam puisi di atas adalah bisa saja jamuan yang bersifat rohani, yang jauh lebih nikmat dari sekadar hidangan juadah makanan dan minuman. Dengan demikian, esensi puasa bagi penyair adalah untuk mencapai tersingkapnya penghalang yang menutupi penglihatan batin manusia. Dengan berpuasa, mata batin dan kepekaan manusia kiranya akan lebih terasah dan tajam sehingga hikmah-hikmah tentang hidup dan kehidupan dengan lebih mudah kita dapatkan. Selain Maulana Jalaluddin Rumi, penyair Syekh Hamzah Fansuri juga banyak menulis tentang anjuran untuk berpuasa dalam puisi-puisinya. Mengutip penggal puisi dalam kitab “Asrar al-’Arifin”, Syekh Hamzah Fansuri menuliskan jangan bermaqam di ubun-ubun atau di pucuk hidung // atau di antara kening atau di dalam jantung // sekalian itu hijab kepada Dzat-Nya. Atau dalam bait yang lain Hamzah Fansuri juga menegaskan “hapuskan akal dan rasamu //lenyapkan badan dan nyawamu // pejamkan hendak kedua matamu // sana kau lihat permai rupam.” Penggal bait pertama dari puisi di atas dapat dimaknai bahwa upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dapat dicapai dengan cara melawan hawa nafsu. Nafsu yang bermaqam di ubun-ubun atau mengisyaratkan berupa pikiran liar atau buruk ataupun nafsu di pucuk hidung atau segala yang berkaitan dengan aroma dari tangkapan penciuman termasuk di dalamnya makanan dan minuman. Pada penggal bait yang kedua yang dikutip, hapuskan akal dan rasamu, merujuk pada pikiran buruk dan nafsu yang berkaitan dengan rasa alami manusia. tersebab, hal-hal itu adalah penghalang untuk lebih dekat kepada Allah. Sedangkan untuk mengetahui ”rahasia-rahasia” Allah, tutuplah mata yang kasat ini, maka akan terang dilihat siapa diri sesungguhnya di dahapan Sang Pencipta yaitu manusia yang lebih baik, manusia yang jauh lebih elok, di sisi Allah maupun di mata sesama manusia. Tamsilan puisi di atas menurut hemat hamba, mampu mengajak kita untuk mengolah rasa cinta bagi penulis dan juga pembaca. Dengan demikian, tatkala para penyair sufi menulis puisi tentang puasa, puisi-puisi tersebut bertujuan diantaranya agar membangkitkan ilham pembaca melalui penafsiran rohaniahnya. Diharapkan pula pembaca tergugah untuk menyelami esensi dari ibadah puasa. Tulisan ini disudahi dengan keterbatasan pemahaman lainnya yang barangkali bisa saja lebih mendalam. Tetapi sepertimana yang telah disampaikan di awal kata, upaya untuk menelisik persamaan dalam hal proses di antara keduanya adalah upaya diri penulis untuk lebih bisa menjalani ibadah puasa di tahun ini lebih baik sekaligus memperkuat kehendak berpuisi dalam diri agar mampu melahirkan kreatifitas yang lebih bermanfaat. Apalagi misalnya, dalam “pembacaan” hamba, memang sudah dua tahun belakangan, ibadah puasa di bulan Ramadan menjadi agak lebih berat diakibatkan masa pandemi dan juga wacana-wacana keIslaman yang disuguhkan ke publik, cukup membuat kita selaku masyarakat awam merasa tidak nyaman. Demikian juga halnya dengan berpuisi, khususnya bagi diri, adakalanya menulis dirasa lepas dari esensi. Untuk itulah tulisan ini dirangkai. Wallahualambissawab. Demikian fikir dirangkai Banyak hal pula belum terungkai Hanyalah diri hendak memulai Kurangnya jangan, diintai-intai Jefri al Malay Sastrawan Riau. Berkhidmat sebagai tenaga pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Prodi Sastra Melayu Universitas Lancang Kuning.
– Jalaluddin Rumi mungkin sudah sangat familiar bagi para pencinta sastra dan filsafat. Pria yang dikenal Rumi ini merupakan seorang penyair sufi yang lahir pada tahun 1207 Masehi. Merujuk pada silsilah keluarga sang ayah, silsilah Rumi bertemu dengan Abu Bakar as-Shiddiq. Sedangkan dari garis keturunan sang ibu bertemu sampai pada Ali bin Abi Thalib. Nah pada artikel ini terdapat kumpulan puisi, syair, quote, Jalaluddin Rumi Menyentuh Hati yang bisa Anda baca atau pelajari selama bulan puasa Ramadhan 2022 ini. Kumpulan puisi, syair, quote Jalaluddin Rumi ini mungkin tidaklah selengkap apa yang ada pada buku, namun Kami mencoba untuk merangkumnya dari berbagai sumber untuk tujuan pendidikan. Berikut puisi, syair, quote Jalaluddin Rumi Ramadhan 2022 PUASA MEMBAKAR HIJAB Rasa manis yang tersembunyi, Ditemukan di dalam perut yang kosong ini! Ketika perut kecapi telah terisi, ia tidak dapat berdendang, Baik dengan nada rendah ataupun tinggi. Jika otak dan perutmu terbakar karena puasa, Api mereka akan terus mengeluarkan ratapan dari dalam dadamu. Melalui api itu, setiap waktu kau akan membakar seratus hijab. Dan kau akan mendaki seribu derajat di atas jalan serta dalam hasratmu. DIA TIDAK DI TEMPAT LAIN Salib dan ummat Kristen, ujung ke ujung, sudah kuuji. Dia tidak di Salib. Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno. Tidak ada tanda apa pun di dalamnya. Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah, dan ke Kandahar Aku memandang. Dia tidak di dataran tinggi maupun dataran rendah. Dengan tegas, aku pergi ke puncak gunung Kaf yang menakjubkan. Di sana cuma ada tempat tinggal legenda burung Anqa. Aku pergi ke Ka’bah di Mekkah. Dia tidak ada di sana. Aku menanyakannya kepada Avicenna lbnu Sina sang filosuf Dia ada di luar jangkauan Avicenna … Aku melihat ke dalam hatiku sendiri. Di situlah, tempatnya, aku melihat dirinya. Dia tidak di tempat lain. DISEBABKAN RIDHO-NYA Jika saja bukan karena keridhaan-Mu, Apa yang dapat dilakukan oleh manusia yang seperti debu ini dengan Cinta-Mu? LETAK KEBENARAN Kebenaran sepenuhnya bersemayam di dalam hakekat, Tapi orang dungu mencarinya di dalam kenampakan. KAU DAN AKU Nikmati waktu selagi kita duduk di punjung, Kau dan Aku; Dalam dua bentuk dan dua wajah — dengan satu jiwa, Kau dan Aku. Warna-warni taman dan nyanyian burung memberi obat keabadian Seketika kita menuju ke kebun buah-buahan, Kau dan Aku. Bintang-bintang Surga keluar memandang kita – Kita akan menunjukkan Bulan pada mereka, Kau dan Aku. Kau dan Aku, dengan tiada Kau’ atau Aku’, akan menjadi satu melalui rasa kita; Bahagia, aman dari omong-kosong, Kau dan Aku. Burung nuri yang ceria dari surga akan iri pada kita – Ketika kita akan tertawa sedemikian rupa; Kau dan Aku. Ini aneh, bahwa Kau dan Aku, di sudut sini … Keduanya dalam satu nafas di Iraq, dan di Khurasan – Kau dan Aku. RAHASIA YANG TAK TERUNGKAP Apapun yang kau dengar dan katakan tentang Cinta, Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. PERNYATAAN CINTA Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam kata, Kusimpan kasih-Mu dalam dada. Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu, Segera saja bagai duri bakarlah aku. Meskipun aku diam tenang bagai ikan, Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan Kau yang telah menutup rapat bibirku, Tariklah misaiku ke dekat-Mu. Apakah maksud-Mu? Mana kutahu? Aku hanya tahu bahwa aku siap dalam iringan ini selalu. Kukunyah lagi mamahan kepedihan mengenangmu, Bagai unta memahah biak makanannya, Dan bagai unta yang geram mulutku berbusa. Meskipun aku tinggal tersembunyi dan tidak bicara, Di hadirat Kasih aku jelas dan nyata. Aku bagai benih di bawah tanah, Aku menanti tanda musim semi. Hingga tanpa nafasku sendiri aku dapat bernafas wangi, Dan tanpa kepalaku sendiri aku dapat membelai kepala lagi. HATI BERSIH MELIHAT TUHAN Setiap orang melihat Yang Tak Terlihat dalam persemayaman hatinya. Dan penglihatan itu bergantung pada seberapakah ia menggosok hati tersebut. Bagi siapa yang menggosoknya hingga kilap, maka bentuk-bentuk Yang Tak Terlihat semakin nyata baginya. KEMBALI PADA TUHAN Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka, maka milikilah prasangka yang baik tentang caranya! Jika engkau hanya mampu merangkak, maka merangkaklah kepadaNya!Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk, maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan; kerana Tuhan, dengan rahmatNya akan tetap menerima mata wang palsumu!Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan, maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan caranya!Wahai pejalan! Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji, ayuhlah datang, dan datanglah lagi!Kerana Tuhan telah berfirman “Ketika engkau melambung ke angkasa ataupun terpuruk ke dalam jurang, ingatlah kepadaKu, kerana Akulah jalan itu.” KESUCIAN HATI Di manapun, jalan untuk mencapai kesucian hati ialah melalui kerendahan hati. Maka dia akan sampai pada jawaban “Ya” dalam pertanyaan Bukankah Aku Tuhanmu? MENYATU DALAM CINTA Berpisah dari Layla, Majnun jatuh sakit. Badan semakin lemah, sementara suhu badan semakin tabib menyarankan bedah, “Sebagian darah dia harus dikeluarkan, sehinggu suhu badan menurun.”Majnun menolak, “Jangan, jangan melakukan bedah terhadap saya.”Para tabib pun bingung, “Kamu takut? padahal selama ini kamu masuk-keluar hutan seorang diri. Tidak takut menjadi mangsa macan, tuyul atau binatang buas lainnya. Lalu kenapa takut sama pisau bedah?”“Tidak, bukan pisau bedah itu yang kutakuti,” jawab Majnun.“Lalu, apa yang kau takuti?”“Jangan-jangan pisau bedah itu menyakiti Layla.”“Menyakiti Layla? Mana bisa? Yangn dibedah badanmu.”“Justru itu. Layla berada di dalam setiap bagian tubuhku. Mereka yang berjiwa cerah tak akan melihat perbedaan antara aku dan Layla.” MEMAHAMI MAKNA Seperti bentuk dalam sebuah cermin, kuikuti Wajah itu. Tuhan menampakkan dan menyembunyikan sifat-sifat-Nya. Tatkala Tuhan tertawa, maka akupun tertawa. Dan manakala Tuhan gelisah, maka gelisahlah aku. Maka katakana tentang Diri-Mu, ya Tuhan. Agar segala makna terpahami, sebab mutiara-mutiara makna yang telah aku rentangkan di atas kalung pembicaraan berasal dari Lautan-Mu. TUHAN HADIR DALAM TIAP GERAK Tuhan berada dimana-mana. Ia juga hadir dalam tiap gerak. Namun Tuhan tidak bisa ditunjuk dengan ini dan itu. Sebab wajah-Nya terpantul dalam keseluruhan ruang. Walaupun sebenarnya Tuhan itu mengatasi ruang. AKU ADALAH KEHIDUPAN KEKASIHKU Apa yang dapat aku lakukan, wahai umat Muslim? Aku tidak mengetahui diriku sendiri. Aku bukan Kristen, bukan Yahudi, bukan Majusi, bukan Islam. Bukan dari Timur, maupun Barat. Bukan dari darat, maupun laut. Bukan dari Sumber Alam, Bukan dari surga yang berputar, Bukan dari bumi, air, udara, maupun api; Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk; Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen; Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan; Bukan dari dunia kini atau akan datang surga atau neraka; Bukan dari Adam, Hawa, taman Surgawi atau Firdaus; Tempatku tidak bertempat, jejakku tidak berjejak. Baik raga maupun jiwaku semuanya adalah kehidupan Kekasihku … LIHATLAH YANG TERDALAM Jangan kau seperti iblis, Hanya melihat air dan lumpur ketika memandang Adam. Lihatlah di balik lumpur, Beratus-ratus ribu taman yang indah! KETERASINGAN DI DUNIA Mengapa hati begitu terasing dalam dua dunia? Itu disebabkan Tuhan Yang Tanpa Ruang, Kita lemparkan menjadi terbatasi ruang. RUMAH Jika sepuluh orang ingin memasuki sebuah rumah, dan hanya sembilan yang menemukan jalan masuk, yang kesepuluh mestinya tidak mengatakan, “Ini sudah takdir Tuhan.” Ia seharusnya mencari tahu apa kekurangannya. DEBU DI ATAS CERMIN Hidup/jiwa seperti cermin bening; tubuh adalah debu di atasnya. Kecantikan kita tidak terasa, karena kita berada di bawah debu. UPAYA Ikat dua burung bersama. Mereka tidak akan dapat terbang, kendati mereka tahu memiliki empat sayap. BURUNG HANTU Hanya burung bersuara merdu yang dikurung. Burung hantu tidak dimasukkan sangkar DUA ALANG-ALANG Dua alang-alang minum dari satu sungai. Satunya palsu, lainnya tebu. KERJA Kerja bukan seperti yang dipikirkan orang. Bukan sekadar sesuatu yang jika sedang berlangsung, kau dapat melihatnya dari luar. Seberapa lama kita, di Bumi-dunia, seperti anak-anak Memenuhi lintasan kita dengan debu dan batu dan serpihan-serpihan? Mari kita tinggalkan dunia dan terbang ke surga, Mari kita tinggalkan kekanak-kanakan dan menuju ke kelompok Manusia. BURUNG HANTU dan ELANG RAJA Seekor elang kerajaan hinggap di dinding reruntuhan yang dihuni burung hantu. Burung-burung hantu menakutkannya, si elang berkata, “Bagi kalian tempat ini mungkin tampak makmur, tetapi tempatku ada di pergelangan tangan raja.” Beberapa burung hantu berteriak kepada temannya, “Jangan percaya kepadanya! Ia menggunakan tipu muslihat untuk mencuri rumah kita.” Kumpulan Quotes Ramadhan Jalaludin Rumi 2022 1. “Biarkanlah dirimu dibentuk oleh tarikan yang kuat dari sesuatu yang kamu cintai.” 2. “Setiap penglihatan tentang keindahan akan lenyap. Setiap perkataan yang manis akan memudar.” 3. “Berhenti merasa kamu begitu kecil. Kamu adalah alam semesta yang bergembira.” 4. “Tuhan telah memasang tangga di hadapan kita, kita harus mendakinya, setahap demi setahap.” 5. “Dalam perjalanan itu tak ada lorong sempit yang lebih sulit dari ini, beruntunglah orang yang tak membawa kedengkian sebagai teman.” 6. “Jangan merasa kesepian, seluruh alam semesta ada di dalam diri kamu.” 7. “Ketika engkau melambung ke angkasa ataupun terpuruk ke dalam jurang, ingatlah kepada-Ku, karena Akulah jalan itu.” 8. “Dalam mendengar ada perubahan sifat, dalam melihat ada perubahan hakikat.” 9. “Mata hati punya kemampuan 70 kali lebih besar untuk melihat kebenaran daripada indra penglihatan.” 10. “Ada suara yang tidak menggunakan kata-kata. Dengarkanlah.” 11. “Luka adalah tempat di mana cahaya memasukimu.” 12. “Luka yang kamu rasakan adalah sebuah pesan. Dengarkanlah mereka.” 13. “Abaikan apa pun yang membuatmu takut dan sedih, yang menyurutkanmu ke belakang menghadapi sakit dan maut.” 14. “Apa yang engkau cari sedang mencarimu.” 15. “Di mana pun kamu berada, jadilah jiwa di tempat itu.” 16. “Hari kemarin telah berlalu dan ceritanya sudah diceritakan. Hari ini benih-benih baru tumbuh.” 17. “Bila kamu ingin mempelajari suatu rahasia, hatimu harus melupakan tentang rasa malu dan martabat. Kamu adalah orang yang dicintai Tuhan, namun kamu mengkhawatirkan apa yang orang katakan.” 18. “Kamu terlahir dengan sayap, mengapa memilih untuk merangkak melewati hidup.” 19. “Kemarin aku pintar, aku ingin mengubah dunia. Sekarang aku bijak, maka dari itu aku mengubah diriku sendiri.” 20. “Wanita adalah seberkas sinar Tuhan Dia bukan kekasih duniawi. Dia berdaya cipta Engkau boleh mengatakan dia bukan ciptaan.” Nah itulah beberapa kumpulan puisi, syair dan quotes Jaluludin Rumi yang bisa Anda jadikan bahan pembelajaran pada bulan puasa Ramadhan 2022 ini, dan semoga bermanfaat. kk Dapatkan Update Berita Terbaru dari di Google News
Ramadhan sebentar lagi akan tiba. Semarak umat muslim untuk merayakan terlihat dimana-mana. Hal itu dikarenakan bulan tersebut selalu bulan yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim di seluruh dunia, karena pada bulan inilah banyak kemuliaan-kemuliaan yang terkandung di dalamnya. Sehingga disebut dengan bulan yang lebih baik dari seribu bulan. Oleh karena itu, salah satu cara untuk menyambut bulan suci ramadhan adalah dengan puisi yang bisa meresap dan menjadi inspirasi di hati. Manfaat Puisi di Bulan Ramadhan Ada banyak manfaat yang akan kita peroleh dari membaca puisi ramadhan, antara lain 1. Memberikan kabar bahagia bahwa bulan ramadhan bulan yang penuh keberkahan telah Sebagai penulis kita juga bisa memanfaatkan momen ramadhan dengan menyambung tali silaturahmi kepada orang yang sudah lama nggak berkomunikasi dengan Dapat menjadi pelopor untuk menyebarkan berita kebaikan melalui karya puisi ramadhan yang indah dan menarik. Contoh Puisi Ramadhan Dilansir dari situs berikut beragam contoh puisi ramadhan untuk berbagai momentum, mulai dari menyambut bulan suci ramadhan hingga puisi yang menggambarkan puasa di tengah pandemi Covid-19 Marhaban ya Ramadhan Terimakasih Ya AllahKau pertemukan hambamu dengan bulan yang ku dambakanKau berikan kami tuk harapkan sebuah ampunanSebuah ampunan di bulan suci ramadhanRasa bahagia yang tak bisa terucap oleh kata-kata Hanya kata-syukur yang terucap penuh rasa pengagunganRasa pengagungan penuh kebahagiaanKarena di beri kesempatan bertemu bulan yang kau agungkan Ku bersihkan jiwa dan raga untuk menyambutnyaKu tanamkan rasa penyesalan di hari-hari sebelumnyaKu sucikan batin tanpa rasa iri tuk memulyakan bulan yang engkau mulyakanKu bersujud padamu tuhan semesta alam Lantunan ayat-ayat Alquran aku dendangkanTuk muliakan bulan yang engkau mulyakanDemi namamu tuhan ku harapkan belas kasihanDan harapkan kekuatan tuk mengisi bulan yang engkau muliakan dengan kebaikanMarhaba ya Ramadhan Puisi Menjelang Ramadhan Ramadhan Kini kau akan datangMenyejukan hati yang kekeringanMengharumkan nafas yang tertahanMenenangkan rasa kegelisahan Ramadhan aku sangat senangKurasakan ada kedamaianMenjalankan ibadahpun tenangTiada penggangu Berkeliaran Ramadhan Namamu suci Nan menawanMembuat insan tertawanMenjalankan ibadah penuh keikhlasanDemi gandanya pahala dan kemenangan Seuntai kata kurangkaikanUntukmu Bulan suci ramadhanKarena kedatangan mu mengesankanDan selalu di rindukan umat beriman Contoh Puisi Ramadhan di Tengah Pandemi COVID-19 Ramadhan dan Corona Tahun ini tahun yang berbedaWalau Ramadhan telah tibaSemua karena virus CoronaYang sedang melanda seantero dunia. Masjid-masjid lebih sepiOrang-orang mengurung diriBeribadah di dalam rumahAgar korona tidak tersebar ke mana-mana. Mari kita berdiam diriJangan sembarangan pergi pergiSebab corona bisa menyakitiSiapa saja di negeri ini. PUASA DIPERTANYAKANKarya Y. S. Sunaryo Niaga dan kongsi banyak yang berhentiJam kerja dipangkas dikurangiTidur sepanjang hari diberi artiKatanya, demi Ramadan bulan suci Raga dimanja-manjaLemas diduga khusuk puasaBerkeringat banyak diwanti-wantiTakut puasa tak kuat sehari Katanya, puasa untuk TuhanHingga tarawih mesti semalamanTadarus palingkan kehidupanMulut-mulut semata wiridan Lalu di mana puasa hendak berperang?Jika serba sendirian menjadi pilihanJalan pagi sunyi bak di pengungsianMenangkah berperang jika sambil tiduran? Ramadan mestilah bukan sebulan kemalasanBukan pula bulan hentikan kepedulianJustru bangkit menangkan keimananCumbui Tuhan dan berjibaku untuk martabat kemanusiaan Contoh Puisi Ramadhan di Masa Penghujung DI PENGHUJUNG RAMADHAN Kala kerinduan belumlah usaiKala penghayatan dalam doa belumlah sempurnaMenapaki lajunya perjalanan yang tiada hentiMenyusuri lorong yang penuh liku menghadang. Kuingin Kau basuh dalam renungankuSaat Kau pancarkan cahaya dalam bulan nan muliaMengharapkan ampunan dalam sujudku yang panjangMasihkah kan kupalingkan wajah ini? Ingin kuhapus semua noda dan dosaIngin kuhempas semua kobaran emosi dalam dadaMeluruhkan jiwa yang sarat dengan hasratTenggelam dalam tangisan penuh sesal Sanggupkah kan kutapaki hariku?Menyongsong esok yang t’lah siap menantiSemoga di penghujungmu ya RamadhanAmpunan Illahi kan terpancar lewat pribadi nan luhur Detik-Detik Terakhir Ramadhan Sebentar lagi kau akan pergiSebentar lagi kau kan berlaluMeninggalkan semua kemuliaan & cinta yg ada padamuSedangkan ku disini masih saja tak bisa melakukanApa yang seharusnya dilakukan saat bersamamu Menganggapmu tak lebih dari yang lainnyaMelewatimu seperti hal yang sudah biasa terjadiBahkan di penghujung keberadaanmuKau selalu memberikan kerinduan & keinginanYang diharapkan setiap insan Di saat-saat terakhirmu segala kemuliaan & keagunganKau taburkan ke seluruh alam semestaSegala rahmat & cinta bagaikan air hujan yang turun membasahi bumiYang setiap tetesanmu takkan mungkin terhitungAkankah ku kan berjumpa lagi denganmu ?Menikmati segala kemuliaan yang ada padamu ku kan selalu merindukanmu
puisi rumi tentang puasa